thajir aqiqah jakarta

Tata Cara Aqiqah Untuk Anak Dalam Islam

thajir aqiqah jakarta

Mengaqiqahi anak yang baru lahir merupakan salah satu syariat yang agung dalam agama kita yang mulia ini, yaitu agama islam. Dengan melaksanakan aqiqah, berarti kita telah menunaikan salah satu ibadah kepada Allah Azza Wajalla.

Dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya aqiqah sangat banyak, diantaranya adalah hadits hadits Samurah bin Jundub Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

كلُّ غلامٍ مرتَهَنٌ بعقيقتِهِ تذبحُ عنْهُ يومَ السَّابعِ ويُحلَقُ رأسُهُ ويُسمَّى

“Setiap anak yang baru lahir tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya), dicukur, dan diberikan nama.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albany Rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah No.2580).

Makna ‘tergadaikan’ dalam hadits tersebut ditafsirkan sebagian para ulama seperti Al-Imam Ahmad Rahimahullah bahwa anak tersebut tidak akan bisa memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya jika anak itu mati dalam keadaan belum di aqiqah. Sebagian lainnya seperti Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan bahwa aqiqah merupakan sebab terlepasnya anak itu dari setan dan penjagaan dari setan.

Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata :

والحكمة من العقيقة أنها مشروعة بسبب تجدد نعمة الله على الوالدين، وفيها سر بديع موروث عن فداء إسماعيل بالكبش الذي ذُبح عنه، وفداه الله به، فصار سنة في أولاده بعده أن يفدي أحدهم عند ولادته بذبح عنه، ولا يستنكر أن يكون هذا حرزًا له من الشيطان بعد ولادته، كما كان ذكر اسم الله عند وضعه الرحم حرزًا له من ضرر الشيطان

“Hikmah dari aqiqah bahwa hal itu disyariatkan karena kenikmatan baru yang diberikan kepada kedua orang tua. Di dalam aqiqah terdapat rahasia yang dalam, yang diwarisi dari tergantikannya Ismail Alaihis Salam dengan seekor domba jantan yang disembelih untuknya, dan Allah menggantikan Ismail dengan domba jantan tersebut.  Sehingga, jadilah menyembelih itu sebagai sunnah pada anak keturunan sepeninggal beliau, yaitu salah seorang dari mereka menggantikan kelahiran dengan menyembelihkan untuknya. Tidaklah diingkari jika aqiqah tersebut merupakan bentuk penjagaan bagi anak dari setan setelah kelahirannya, sebagaimana menyebut nama Allah ketika diletakkannya anak itu di dalam rahim merupakan penjagaan dari bahaya setan.” (Tuhfatul Ahwadzi Karya Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah hal.77).

Detail Tata Cara Aqiqah Untuk Anak

Adapun detail tata cara aqiqah untuk anak berdasarkan tuntunan syariat adalah sebagai berikut :

1.Penentuan Hari Aqiqah

Saat anak sudah lahir ke dunia, saatnya bagi orang tua untuk menentukan kapan akan melaksanakan aqiqah untuk si kecil. Jika orang tua memiliki kemampuan, tentu saja waktu terbaik dan paling utama untuk melaksanakan aqiqah adalah hari ketujuh. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits, diantaranya adalah hadits Samurah bin Jundub Radhiallahu Anhu di atas. Jika tidak mampu melaksanakannya pada hari ketujuh, maka boleh hari ke-114, hari ke-21, maupun hari-hari lainnya.

Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan Hafizhahullah berkata :

لا مانع من تأخير ذبح العقيقة إلى وقت يكون أنسب وأيسر في حق الوالدين أو أحدهما، وإنما ذبحها في اليوم السابع أو الحادي والعشرين إنما يكون فضيلة إذا أمكن ذلك وتيسر. أما إذا لم يتيسر فلا بأس بتأخيرها إلى وقت آخر حسب الإمكان، مع العلم أن ذبح العقيقة يقوم به والد الطفل فهو من حقوق الولد على والده

“Tidak ada larangan bagi kedua orang tua atau salah satu dari keduanya untuk mengakhirkan menyembelih aqiqah sampai waktu yang paling cocok dan paling mudah. Sesungguhnya menyembelih      pada hari ke-7 atau hari ke-21 hanyalah keutamaan jika hal tersebut memungkinkan dan mudah. Adapun jika tidak mudah maka tidak mengapa mengakhirkannya  ke waktu lain yang memungkinkan, bersamaan dengan mengetahui bahwa menyembelih aqiqah merupakan tugas ayah. Maka hal itu termasuk hak-hak anak atas ayahnya.” (Kitab Minnatur Rahman Fi Fatawa Al-Hajj Wa Akhthoil Hujjaj Lil Fauzan hal.4-5).

2.Pemotongan Hewan Aqiqah

Sebelum hari pemotongan hewan aqiqah dimulai, tentu orang tua mesti mencari kambing atau domba yang akan disembelih. Usia kambing atau domba tersebut sesuai dengan usia sembelihan hewan qurban untuk kambing, yaitu minimal genap satu tahun untuk kambing kacang atau kambing jawa atau minimal genap 6 bulan untuk domba. Untuk membeli kambing aqiqah atau pembelian paket aqiqah, sebaiknya Anda membelinya dari Thajir Aqiqah.

Saat hari pelaksanaan aqiqah sudah mulai, maka ayah dari si kecil maupun orang yang mewakilinya mulai menyembelih dua ekor kambing/domba untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Hal ini telah ditunjukkan oleh hadits berikut ini :

عنِ الغلامِ شاتانِ مكافِئتانِ وعنِ الجاريةِ شاةٌ

“(Hendaknya dia menyembelih) dua ekor kambing yang setara untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan haditsnya dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Daud No.2842).

Saat menyembelih, disyariatkan untuk membaca ‘Bismillah’ atau ‘bismillah Allahu Akbar’, sebagaimana bacaan yang disyariatkan saat menyembelih. Adapun apa yang tersebar di sebagian masyarakat tentang penyebutan nama yang diaqiqah pada saat disembelih, sama sekali tidak ada dalil yang kuat dalam masalah ini. Hal ini telah ditegaskan oleh seorang ahli hadits di masa ini, yaitu Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah. (lihat : https://www.youtube.com/watch?v=s622iJUbSnA).

Setelah menyembelih hewan aqiqah tersebut, si kecil yang diaqiqah dicukur rambutnya. Ingat, dicukur di sini artinya mencukur keseluruhan rambut si kecil, bukan hanya memotong sebagiannya. Sebab, memotong sebagian dan membiarkan sebagian yang lainnya merupakan Qoza’ yang terlarang di dalam syariat. Hal ini ditunjukkan oleh hadits berikut :

عن ابن عُمر رضي اللَّه عنهُما قَالَ: “نَهَى رسُولُ اللَّه ﷺ عنِ القَزعِ” متفق عَلَيْهِ

“Dari Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma beliau berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melarang dari Qoza’” (Diriwayatkan oleh Muttafaqun Alaihi).

Qoza’ artinya memotong sebagian rambut kepala dan meninggalkan sebagian yang lainnya. Hal ini terlarang, karena yang disyariatkan adalah melakukan penyukuran dan pemotongan rambut secara merata. Setelah dicukur, barulah anak itu diberikan nama.

Disyariatkan juga untuk menimbang rambut anak tersebut dan bersedekah dengan perak sebesar timbangan dari hasil cukuran rambut anak tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.  Semoga bermanfaat.

BAGIKAN :

Open chat
1
Hubungi Kami
Selamat Datang Di Thajir Aqiqah, Ada Yang Bisa Kami Bantu Terkait Layanan Kami ?